Alasan-Alasan Bagi Kita untuk Saling Memberi

Memberi Itu Untuk Kita

Memberi itu tidak mengurangi rezeki kita, malah menambah rezeki, percaya tidak? Pernah dengar sebuah hadis yang sangat terkenal, pasti kita tidak asing dengan hadis ini, “Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang ada di bawah. Adapun tangan yang di atas adalah yang memberi dan tangan yang di bawah adalah yang meminta.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Kalau ingin diberi rezeki seharusnya kita juga bisa memberi. Allah SWT akan melipat gandakan rezeki kita jika kita bisa memberi kepada sesama manusia, karena memberi itu lebih baik dari pada menerima. Pernah dengar orang yang memberi jatuh miskin karena dia suka memberi, kita harus yakin bahwa Allah SWT akan membalas semua kebaikan kita, baik didunia maupun akhirat.

Seperti hadis Rasulullah SAW, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut membantu saudaranya (seiman).” (HR. Muslim dan Turmudzi dari Abu Hurairah)

Memberi adalah salah satu bentuk saling menolong antar sesama manusia, kita diciptakan tidak sendirian hidup di dunia ini, tetapi kita adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain, dan kita tidak bisa hidup tanpa mereka.

Allah SWT telah berjanji kepada kita, kalau kita memberi itu bukan berarti tidak ada gantinya, bahkan nanti ganti dari hasil memberi akan jauh lebih besar. Karena itu, kita harus yakin dengan kekuatan memberi, Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam firman-Nya di dalam surat Al-Baqarah ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

Bayangkan jika kita memberi kepada yang membutuhkan secangkir beras, Allah SWT akan menggantinya setara dengan 700 gelas, yakinlah.
Ikhlas Atau Tidak Ikhlas
Ikhlas itu bahasa hati, berhubungan erat dengan tauhid yang murni, akidah yang benar, dan tujuan yang jelas. Ihklas itu bisa diibaratkan sebagai nyawa dari tubuh memberi, kalau tidak bernyawa berarti mati, mati berarti tidak menghasilkan. Jadi ketika kita memberi tetapi tidak ikhlas maka memberi itu tidak akan menghasilkan pahala, tapi ingat ini berhubungan dengan balasan akhirat, yaitu pahala.

Bagaimana dengan memberi tanpa ikhlas? Apakah mereka yang memberi tanpa ikhlas akan mendapat balasan Allah SWT? Siapapun yang memberi pasti akan mendapat balasan oleh Allah SWT baik itu dalam keadaan ikhlas atau tidak, bagi yang tidak ikhlas mereka Cuma dapat dunianya, sedang yang benar-benar ikhlas akan mendapat balasan yang jauh lebih banyak baik didunia maupun diakhirat.

Yang terpenting sekarang adalah kita mulai untuk memberi, jangan terpaku dalam keadaan ikhlas saja. Mencari momen ikhlas kadang terasa sangat jarang bagi kebanyakan kita, jadi walaupun masih ada rasa berat, dikit-dikit ya ngasihlah kalau ada kotak infak. Niatan kita Cuma satu, agar terbiasa.

Kalau kita sudah terbiasa memberi, suatu saat ada yang membutuhkan pasti hati kita langsung tergerak melaksanakannya. Bukan berarti kita boleh ga ikhlas, tapi kita sedang membangun hati yang ikhlas secara perlahan, ya dengan mulai memberi.

Ikhlas itu adalah dua perkara, perkara pertama adalah sebuah amal dan perkara kedua ikhlas adalah menjauhi kemaksiatan. Ikhlas itu adalah amal, amal disini adalah amal yang baik, karena amal ada dua, amal baik dan amal buruk. Ikhlas itu menjauhi maksiat, karena jika kita memberi tapi ada tujuan maksiat itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ikhlasnya agama, contohnya memberi ciu kepada orang mabok yang kehabisan ciunya, nanti malah ikut-ikutan mabok.[1]

Tapi yang paling berbahaya saat kita memberi itu bukan ikhlas atau tidaknya tapi riya, soalnya Rasul SAW pernah bersabda, “Yang paling aku takuti dari umatku adalah syirik khaliy, yaitu riya”. Riya itu pamer, makanya jangan niat pamer saat memberi. Karena jelas tidak akan ada balasannya. Paling yang ada kalau ketahuan pamer, bisa-bisa kita dijauhi, dan tidak dipercaya. Amal kan bukan ajang pamer, tapi ajang mencari ridho Allah SWT.
Kepada Yang Membutuhkan

Memberi kepada yang membutuhkan merupakan bentuk cinta kita kepada Allah SWT. Karena pasti disekeliling kita suatu saat ada yang membutuhkan pertolongan kita, jika kita mampu, maka hendaknya kita menolongnya atau setidaknya kalau kita tidak mampu carikanlah orang yang mampu menolongnya. Didalam surat al-Insaan Allah SWT berfirman, “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (al-Insaan: 7-10)

Di dalam ayat itu dijelaskan bahwa mereka memberi kepada orang-orang miskin, anak yatim dan juga kepada tawanan. Semua yang kita lakukan adalah untuk mencari ridha Allah SWT termasuk juga dengan memberi kepada yang membutuhkan.

Memberi kepada yang membutuhkan itu utama, tetapi bukan berarti memberi hanya ketika ada yang membutuhkan saja, menunggu ada yang meminta, kalaupun kita akan memberi bukan kepada yang sangat membutuhkan, itu sah-sah saja ko. Suatu ketika kita makan dengan sahabat-sahabat kita, dan kita ingin membayarkan makanan sahabat-sahabat kita, padahal mereka juga punya uang untuk membayar, tidak masalah itu juga boleh.

Jika ada orang yang kesusahan, ketika kita memberi bantuan kepadanya, pasti dia akan berterima kasih dan mengucap syukur kepada Allah SWT. Nah inilah faedah dari memberi kepada yang membutuhkan. Jadi selain kita memberi bantuan, kita juga memberikan kesempatan bagi kita dan yang diberi untuk mengucap syukur kepada Allah SWT, indah kan!.
Tidak Harus Harta

Memberi itu kata banyak orang identik dengan uang, memberi ya ngasih duit. Dan duit itu identik dengan harta. Benar ga sih persepsi itu, atau malah salah kaprah. Memberi itu tidak harus diberikan dengan harta, harta hanya salah satu hal yang dapat dijadikan objek memberi, tapi senyummu pun bisa kalian berikan dan dapat pahala lagi. Kalau mamberi itu harus harta terus bagaimana dong nasib orang yang miskin, apa mereka tidak punya kesempatn untuk memberi, tentu mereka punya kesempatan. Jadi memberi itu adalah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, bisa dengan senyum, memberi buah pikiran kita, memberi bantuan secara fisik bahkan menggauli istrimu juga termasuk amalan memberi. Kompleks kan memberi itu, jadi mulai sekarang jangan terlalu banyak fikir, lakukan saja.
Bisakah Kita Konsisten

ini dia yang menjadi momok utama, membiasakan diri. Kita memberi sesama seringnya hanya ketika ada lahan memberi datang, ada yang meminta bantuan baru ada niat memberi. Karena itu memberi jangan tunggu job datang, belum lagi pas ada job memberi datang teman yang namanya ikhlas tidak hadir, gagal lagi memberinya. Karena itu memberi itu memang perlu keikhlasan tapi bukan utama yang utama adalah kemauan, ingat ikhlas itu bukan riya tapi bukan berarti kita boleh riya.

Banyak orang yang tidak beragama yang menjadi orang dermawan, mereka walaupun memberinya tanpa didasari rasa ikhlas tetapi mereka tetap mendapat balasan atas kedermawanannya. Bukan artinya saya menekankan untuk tidak ikhlas, tapi ingin menggambarkan betapa besar nanti balasan kita yang ikhlas, jah dari mereka yang tidak ikhlas.

Kita bisa lihat orang terkaya nomor satu didunia saat ini, Bill Gates, dia walaupun terlihat sangat kapitalis tapi dia adalah seorang yang super dermawan. Warren Buffett, sama-sama orang terkaya di dunia, dia juga terkenal dengan kedermawanannya.

Kita hanya butuh konsistensi diri dalam memberi, mulailah ketika ada kotak amal, sisihkan, tak perlu uang yang berwarna merah, biru juga boleh, haha, seberapapun itu boleh. Ketika kita sudah mampu membiasakan, pasti temannya yang bernama ikhlas akan hadir disamping kita.
Pamrih? Boleh ko

Sebenarnya kita ini sangat boleh berpamrih terhadap pemberian kita, boleh banget, dianjurkan dan tidak ada larangannya malah. Pamrih itu mengharap balasan dari apa yang kita berikan, sudah menjadi hal lumrah bila kita mengharap sesuatu dari yang kita korbankan, saya juga pamrih ko saat memberi. Pamrih yang boleh itu pamrih yang seperti apa? Pamrih yang boleh adalah pamrih kepada Allah SWT, karena kita sudah diajarkan untuk pamrih kepada-Nya bukan kepada sesama manusia. Kita boleh meminta apapun kepada Yang Maha Memberi, termasuk pamrih meminta balasan lewat doa kita, berharap akan diberikan rezeki yang melimpah setelah kita memberi.

Karena itu lebih baik bila kita memberi seharusnya disusul dengan rasa pamrih, tentunya pamrih kepada Allah SWT bukan kepada sesama.

Orang sering menjadikan alasan pamrih untuk menghindari memberi, padahal bila kita pake pemikiran lain memandang pamrih, pamrih bisa jadi pahala, tuh buktinya pamrih kepada Allah SWT. Kenapa menjadi pahala, soalnya kita meminta kepada Allah SWT itu termasuk bentuk ibadah.

Ada Anak Yatim


Ingin dapat rezeki surga, dan disurga derajatnya mendekati Nabi SAW pake cara ini, menyantuni anak yatim. Tek perlu kaya raya, punya uang melimpah, tajir, hanya perlu memberi kepada anak yatim. Banyak panti asuhan saat ini, kita bisa menyalurkan bantuan kita kepada mereka, semampu kita itu tidak salah. Yang penting memberi, untuk mendapat rezeki surga loh.

Dalam sabda Rasullullah SAW, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya” (HR. Bukhari)


Membayar Zakat


Sudahkah kita membayar zakat? Zakat itu hukumnya wajib, didalam harta kita pasti terdapat hak milik yang lain, dan lewat zakatlah harta kita itu dibersihkan. Orang munafik biasanya tidak melaksanakan kewajiban berzakat, karena mereka merasa zakat hanya akan mengurangi hartanya.

Zakat sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, saat kita melaksanakan zakat berarti kita telah menjaga keseimbangan tatanan masyarakat dari kemiskinan, setidaknya meringankan beban mereka yang membutuhkan.

Zakat bisa mensucikan jiwa kita dan juga mensucikan harta kita. Zakat adalah sarana membersihkan diri kita dari harta yang tidak hak, zakat juga mengajarkan kita untuk menjauhi sifat kikir, tamak terhadap harta. Zakat juga merupakan bukti kesungguhan iman kita kepada Allah SWT dan dengan berzakat juga termasuk bentuk kita bersedekah.

Dalam firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-taubah: 103)

Zakat merupakan bentuk kepedulian sosial, terhadap kemiskinan yang terjadi. Bila kita lihat kondisi masyarakat Indonesia yang tingkat kemiskinannya tinggi maka zakat bisa menjadi solusi sempurna jika semua orang muslim taat menjalankannya.[2]


Mari Kita Sedekah


Sedekah adalah berbagi. Berbagi dengan bersedekah sangat dianjurkan baik itu dalam masa lapang maupun dalam masa sempit. Sedekah merupakan jalan kita untuk mendapatkan anugrah dari Allah SWT seperti sabda Rasululah SAW, “Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah, berpuasa, dan shalat di kala kebanyakan manusia tidur.” (HR.At-Tirmidzi

Ketika kita bersedekah, harta kita tidak akan berkurang tetapi akan bertambah sesuai dengan janji Allah SWT dalam surah Al-A’raf ayat 16.

Pertama, sedekah akan menghapuskan dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR Tirmidzi).

Didalam pembahasan tentang istighfar dijelaskan bahwa bertaubat akan membuka pintu rezeki. Bertaubat adalah usaha untuk menghapus dosa, maka sedekah itu adalah membuka pintu rezeki.

Menghapus dosa itu artinya ketika kita bersedekah kita sedang dalam jalan bertaubat, sedang ketika kita bertaubat kita diharuskan untuk menjauhi perbuatan yang dilarang Allah SWT. sehingga ketika kita bersedekah seyogyanya diimbangi dengan melakukan perbuatan baik lainnya. Sehingga jika ada orang yang bersedekah namun dia tetap melakukan maksiat, niscaya percuma sedekahnya. Karena sedekah adalah jalan untuk bertaubat.

Kedua, bersedekah memberikan keberkahan kepada harta yang kita miliki. “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim).

Sesungguhnya tidak ada alasan bagi orang yang anti sedekah ketika mereka menyatakan dengan bersedekah akan mengurangi harta kita. Bagaimana kita mau bertambah rezekinya jika rezeki kita malah kita bagi-bagi. Itu kata mereka, seolah mereka menghitung semua rezekinya dengan cara matematika. Rezeki tidak dihitung dengan matematika dunia, tapi dengan matematika akhirat. Oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa agama tidak bisa dipahami dengan otak kiri tetapi dengan otak kanan.

Ketiga, Allah melipatgandakan orang yang bersedekah. Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS, Al-Hadid: 18)

Keempat, terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah. “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).

Dan terakhir, orang yang sering bersedekah dapat membebaskan dari siksa kubur. Rasulullah saw bersabda, “Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR Thabrani)



[1] Yusuf Qardhawi, Ikhlas Sumber Kekuatan Islam, Jakarta: Gema Insani, 1996.


[2] Ahzami Samiun Jazuli, Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani, 2006.
Share on Google Plus

About hakim punya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment