Tokoh-tokoh dalam dunia periklanan

Tokoh-tokoh dalam dunia periklanan
I do not regard advertising as entertainment or an art form, but as a medium of information. When I write an advertisement, I don’t want you to tell me that you find it “creative”. I want you to find it so interesting that you buy the product.(David Ogilvy)
kata-kata yang sangat powerful di atas diucapkan oleh Bapak periklanan, David Ogilvy, yang sekaligus menjadi kata-kata pertama dalam bukunya yang sangat otoritatif, Ogilvy on Advertising. Ogilvy menyatakan,

iklan bukanlah mahakarya seni yang begitu indah tapi berada di menara gading. Ogilvy tidak bangga kalau penikmat iklan-iklan yang ditulisnya mengatakan iklannya sangat indah dan kreatif. Ia bangga kalau iklan tersebut dibaca oleh target audiens dan si pembaca terhipnotis untuk membeli produk yang di iklankan.[1]

David Ogilvy lahir pada tanggal 23 Juni 1911, di West Horsley, Surrey, Inggris. Kemudian Wafat pada tanggal 21 Juli 1999.[2] David Ogilvy adalah bapak revolusi industri periklanan. Ogilvy menghabiskan masa hidupnya ‘mengkhotbahkan' keuntungan-keuntungan dari riset; kopi iklan panjang yang informatif, dan juga, keuntungan-keuntungan. Keyakinan dasarnya bahwa "konsumen tidaklah bodoh" menolong memulai revolusi kreatif pada era 1960an yang mengubah pandangan dari periklanan Amerika.[3]

Tokoh kedua yang menjadi legenda dalam dunia periklanan adalah Shirley polykoff. Dia adalah seorang penulis naskah iklan atau disebut juga copywriter kreatif di biro iklan kota New York pada tahun 1995. Coba anda bayangkan bahwa anda baru saja diberi tugas untuk menangani kreatif suatu produk yang (sebelum tahun 1955) belum pernah dipasarkan atau diiklankan secara nasional. Produk tersebut adalah perawat rambut. Bermerek: Miss Chairol. Tugas anda: memikirkan suatu strategi kreatif yang akan dapat menyakinkan jutaan wanita di Amerika untuk membeli pewarna rambut Miss Chairol. Orang yang sebenarnya di bebani tugas ini adalah Shirley Polykoff, seorang copywriter untuk biro iklan Foote, Cone & Belding. Ia menciptakan sebuah ungkapan yang terkenal, “Does She … or Doesn’t She?” (Apakah Ia…atau Bukankah Ia?).[4]

Orang ketiga yang menjadi tokoh dalam dunia periklanan dunia adalah Leo Burnet. Filosofi periklanan dari Leo Burnet, seorang pendiri dari agensi Leo Burnet di Chicago. Ia percaya bahwa iklan didasarkan pada landasan manfaat yang diperoleh konsumen, dengan menekankan pada elemen dramatik yang diekpresikan pada manfaat tersebut.[5] Leo Burnet, pendiri Chicago Scool of Advertising, menekankan pentingnya menemukan kejadian yang melekat di suatu produk dan membuat iklan berdasarkan kejadian tersebut, ketimbang menggunakan kepintaran belaka. “Buatlah mereka tertarik pada produknya, bukan pada iklannya,” demikian yang sering dikatakannya. Ia percaya bahwa iklan itu kreatif jika bisa menjual produknya. “Kita ingin konsumen mengatakan, ‘produk itu bagus sekali’ dan bukannya ‘iklan itu bagus sekali’.”[6]


[1] Dyah Hasto Palupi Dan Teguh Sri Pambudi, Advertising That Sells Dwi Sapta: Strategi Sukses Membawa Merek Anda Menjadi Pemimpin Pasar, (Jakarta: Granedia Pustaka Utama, 2006), hlm 3.
[2] Felicia, http://feliciakristib50107008.blogspot.com/2009/12/seorang-david-ogilvy.html, diakses pada 8 April
[3] http://www.jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=090419225252&off=0, diakses pada 8 April 2014
[4] Terence A. Shimp, Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran terpadu, alihh bahasa Revyani Sjahrial, cet. ke-1 (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2003), hlm 406.
[5] Suyanto, Marketing Strategi Top Brand Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2007), hlm I55.
[6] Robert Grede, 5 Strategi Ampuh Berbisnis: meningkatkan Penjualan, Memenangkan Kompetisi, memuaskan Pelanggan, dan Meraih Pertumbuhan Eksponensial, alih bahasa Word++ Translation Service, cet.ke-1 (Yogyakarta: Bentang, 2008), hlm 53.
Share on Google Plus

About hakim punya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment