Ketika Kita Berdoa dan Belum Terkabul-Kabulkan

Banyak sekali orang yang mengeluh, ketika mereka berdoa terus menerus sedang mereka merasa doanya tidak terkabulkan. Jangan khawatir, karena Allah SWT pasti akan mengabulkan doa kita. Hanya saja mungkin belum saatnya diperlihatkan kepada kita. Bila memang kita benar-benar berdoa meminta kepada Allah SWT dan kita meninggalka larangannya, tunggulah dan berusahalah. Sekali lagi saya tekankan doa itu harus dibarengi ikhtiar atau usaha dan juga kiat-kiatnya.

Jangan berputus asa, karena putus asa sangat dilarang Allah SWT, dalam surat Yusuf ayat 12 Allah berfirman, “…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan generasi yang kafir”.

Sehingga dilarang kita merasa doa kita tidak terkabul, tetap meminta dan tetap berusaha mendapatkannya. Selain tetap konsisten kita juga dilarang untuk melakukan hal-hal yang menyebabkan tidak terkabulnya doa. Nah, apa saja penyebab tidak terkabulnya doa kita.

Ada banyak faktor yang menyebabkan doa-doa kita tidak terkabul.

Pertama, memakan barang haram. Sesuatu yang haram akan mempersulit doa kita terkabul. Kita harus benar-benar menghindari barang haram, harta haram, semuanya yang ada embel-embelnya haram menghalangi doa kita terkabulkan. Dalam sabda rasul dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian.” Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.(HR. Muslim)

Kedua, minta cepat-cepat dikabulkan namun ternyata dalam waktu singkat tidak terkabulkan, malah dia kabur dari berdoa. Kabur dari berdoa karena putus asa dan tidak percaya dengan doanya, mana mungkin akan terkabul. Orang yang berdoa harus yakin dengan doa nya, bagaimana mungkin akan terkabul bila kita meminta sesuatu tetapi sesuatu itu sesungguhnya sama sekali menurut kita tidak akan terwujud. Allah SWT tidak menerima doa orang yang tergesa-gesa, maka jangan berputus asa dalam berdoa dan yakin bahwa doa kita akan terkabul. “...karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.”

Ketiga, maksiat. Maksiat adalah salah satu penghalang doa, dosa bisa diumpamakan dengan kotoran dalam tubuh, kotoran dalam tubuh seolah sampah yang menyumbat sungai sehingga airnya berhenti dan membusuk. Semakin kita dipenuhi dosa maka semakin busuk hati kita, dan setiap doa yang kita lakukan akan tersumbat.

Dosa dan maksiat sangat berpengaruh terhadap hati dan perilaku kita, dan semua yang tidak baik tidak disukai oleh Allah SWT.

Keempat, meninggalkan kewajiban. Ketaatan kita kepada Allah SWT dengan cara beribadah dengan sebaik-baiknya adalah termasuk pembuka terkabulnya doa, sedang meninggalkan kewajiban ibadah adalah penutup terkabulnya doa. Kita sebagai umat Islam telah ditentukan ibadah-ibadah yang wajib dan sewajibnya kita melaksanakannya tanpa ada satu pun yang terlewat.

Bahkan disaat-saat ibadah itu adalah waktu yang tepat untuk kita berdoa. Maka selain sebagai pembuka terkabulnya doa kita ibadah wajib adalah tempat yang tepat untuk berdoa.[1]

Kelima, berdoa yang isinya mengandung perbuatan dosa atau mendoakan yang buruk. Tentu Allah SWT tidak akan menerima doa kita, bila ternyata kita mendoakan yang buruk-buruk. Contohnya kita minta seseorang sakit, atau meruginya seseorang. Kalaupun kita ternyata berdoa karena didholimi seseorang, cukuplah kita mendoakan orang yang mendholimi kita agar dia bertaubat dan diberi kesadaran atas perbuatannya.

Keenam, tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. Ketika kita berdoa hendaknya dengan niat yang mantap dan bersungguh-sungguh. Jika kita melafalkan doa kita gunakan kata yang tegas bahwa kita menginginkan Allah mengabulkan, mungkin dengan tidak menggunakan kata ‘jika dikehendaki’, mintalah dengan jelas dan sungguh-sungguh. ‘ya Allah kabulkanlah’. Karena Allah SWT sesungguhnya berbuat menurut apa yang Ia kehendaki dan tidak ada yang memaksanya.

Ketujuh, lalai dan dikuasai oleh hawa nafsu. Doa kita terlalu menggebu-gebu, tetapi kita lupa apa esensi yang kita minta tersebut, ternyata kita dikuasai hawa nafsu, permintaan kita tak lebih dari bentuk hawa nafsu kita. Dari Abu Hurairah R.a, Bahwa Rasulullah SAW Bersabda : “Berdoalah kalian kepada Allah, dan kalian (harus) yakin atas dikabulkan doa kalian itu,Ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memperkenankan doa dari qalbu yang lalai.” ( HR. At Tirmidzi)




[1] Yasid bi Abdul Qadir Jawas, Doa dan Wirid, Jakarta: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2005.
Share on Google Plus

About hakim punya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment