KOMUNIKASI, IKLAN, DAN IKLAN POLITIK

1. Terminologi Komunikasi


Terminologi komunikasi berasal dari bahasa latin, yakni Communico yang artinya membagi, dan Communis yang berarti membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih.[1] Ada begitu banyak definisi komunikasi menurut para ahli, namun sebenarnya definisi yang dibuat oleh para ahli pada dasarnya tidak lepas dari subntansi komunikasi itu sendiri. Menurut Shannon komunikasi diartikan sebagai proses berfikir seseorang memengaruhi orang lain. Oleh karena itu komunikasi menekankan adanya tujuan (intentional) sehingga pendekatan ini sangat linear.[2] Theodore Newcomb, Komunikasi adalah suatu cara yang lazim dan efektik yang memungkinkan orang-orang melakukan orientasi diri terhadap lingkungan mereka.[3]
Aristoteles yang hidup empat abad sebelum masehi (385-322 SM) dalam bukunya Rethoric membuat definisi komunikasi dengan menekankan “siapa mengatakan apa kepada siapa.” Definisi yang dibuat Aristoteles ini sangat sederhana, tetapi ia telah mengilhami seorang ahli ilmu politik bernama Harold D. Lasswell pada 1948 dengan mencoba membuat definisi komunikasi yang lebih sempurna dengan menanyakan “ SIAPA mengatakan APA, MELALUI apa, KEPADA siapa, dan apa AKIBATNYA.”[4]

2. Iklan
Kata iklan didefinisikan dalam KBBI sebagai (1) berita pesanan (untuk mendorong, membujuk) kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan; (2) pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang dijual dipasang di dalam media massa seperti surat kabar dan majalah.
Iklan berbeda dari sekedar informasi tentang suatu benda atau jasa, iklan mempunya sifat “mendorong” dan “membujuk” agar kita menyukai, memilih dan kemudian membelinya. Iklan adalah suatu kegiatan menyampaikan berita, tetapi berita itu disampaikan atas pesanan pihak yang ingin agar produk atau jasa yang dijualnya disukai, dipilih, dan dibeli.[5]
Periklanan (advertising) iklan merupakan komunikasi non personal yang disiarkan melalui televisi, radio, majalah, surat kabar, internet, atau media lainnya. Iklan merupakan komponen kunci dari program promosi dan paling luas digunakan.[6]
Periklanan adalah penggunaan media bayaran oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan informasi persuasif tentang produk (ide, barang, jasa) ataupun organisasi yang merupakan alat promosi yang kuat.[7]

3. Iklan politik
Periklanan tidak hanya fokus kepada produk atau jasa yang berhubungan dengan perekonomian. Periklanan juga bisa menjual produk dan jasa yang berhubungan dengan politik. Iklan-iklan di televisi menjaul kandidat presiden, seperti produsen menjajakan produk dan sikat gigi.[8] Iklan politik memang bukan barang baru, ia datang setiap lima tahun sekali. Kebebasan informasi membuat beragam media, cetak maupun elektronik, manjadi sarana efektif untuk berkampanye. Jauh lebih efektif ketimbang mengerahkan massa, meskipun model lama itu masih tetap dipakai selama pemilu.[9] Setiap iklan yang mengandung unsur politis maka termasuk juga kedalam iklan politik. Iklan politik bertujuan untuk menggerakkan pemirsanya agar bergerak kedalam kegiatan politik. Pemilu Presiden tahun 2004 dicatat sebagai pemilu yang mampu mempertemukan dunia politik dengan dunia pemasaran, dimana iklan dan media massa, khususnya televisi, menjadi semacam mesin politik baru menggantikan mesin politik lama, yaitu partai politik.[10]


[1] Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, cet. Ke-1 (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm 18.
[2] Antoni, Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Penggagas kajian Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Tiga Serangkai, 2004), hlm 38.
[3] Yosandy, You Are The Real personal Success, cet. Ke-1 (Jakarta: PT Elek Media Komputondo, 2010), hlm 38.
[4] Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, cet. Ke-1 (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm 18-19.
[5] Benny H. Hoed, Dari Logika Tuyul Ke Erotisme, cet. Ke-1 (Magelang: IndonesiaTera, 2001), hlm 140.
[6] Serian Wijatno, Pengantar Enterpreneurship, cet. Ke-1 (Jakarta: Grasindo, 2009), hlm 191.
[7] Suyanto, Aplikasi Desain Grafis Untuk Periklanan, cet. ke-1 (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2004), hlm 3.
[8] Akhmad Danial, Iklan Politik Tv: Modernisasi Kampanye Politik Pasca Orde Baru, cet. Ke-1 (Yogyakarta: LkiS, 2009), hlm 5.
[9] Budi Setiono, Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum, cet. ke-1 (Yogyakarta: Galang Press, 2008), hlm 27.
[10] Budi Setiono, Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum, cet. ke-1 (Yogyakarta: Galang Press, 2008),Hlm 6.
Share on Google Plus

About hakim punya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment