ketika kita di zaman akhir


Ketika kita di zaman akhir, wanita-wanita begitu indah dipandang secara nyata. Mereka layaknya makanan yang dijual di warung makan padang, mereka di pajang di piring-piring yang rapi dan menarik. Di piringnya ada paha, ada dada, ada kepala yang ditawarkan betapa nikmatnya batapa membuat kenyang tapi ternyata lapar datang lagi.
Ketika di zaman akhir, lalu lalang wanita membuka auratnya, dijalan-jalan, di sekolah-sekolah, bahkan di masjid-masjid. Melenggok-lenggok membentuk gerak ular yang siap membius Adam-adam yang mengkhayalkannya. Cusss oh nona biusmu masuk menembus jantung hati palsuku, apakah malam ini sudah ada janji nona? Biar aku merasakan candumu! Adam pun menggombal si sisi kelam wanita.
Pakaian mereka kurang jadi, beberapa bagian yang sobekpun belum terjahit, melayang-layang terdorong angin yang halus. Angin terus berlalu membawa wewangi menggoda kehidung-hidung adam, nona aku pun tergoda, bisakah kau mendekat agar wangimu semakin jelas ku rasakan.
bola-bola berlampu berputar mengikuti tangan seorang wanita tua memainkan musik, dug dug dug, adam mulai lupa kapan mereka akan pulang malam ini. 
Share on Google Plus

About hakim punya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Post a Comment